Kisah "˜Orang-Orang Angkat Pasir' di Semenanjung Kepala Burung: Informalitas di Pinggiran Kota Sorong

Penulis

  • Gilang Mahadika Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, Indonesia
  • Riki Ari Pradana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.30641/ham.2025.16.25-46

Kata Kunci:

hak asasi manusia, lingkungan, pembangunan perkotaan, infrapolitik, informalitas

Abstrak

Istilah "pertambangan" membawa konotasi sensitif bagi para pengangkat pasir di pinggiran Kota Sorong, Papua Barat, yang lebih memilih menyebut diri mereka sebagai "orang-orang angkat pasir." Pekerjaan mereka melibatkan pengambilan pasir dari sungai dan pembersihan lereng bukit"”seringkali melalui penebangan hutan"”untuk memudahkan pengumpulan pasir. Dampak ekologis dari aktivitas pertambangan pasir informal ini, termasuk deforestasi, telah menimbulkan kekhawatiran dari pemerintah setempat, warga, dan para pegiat lingkungan, yang memandang praktik ini sebagai sesuatu yang merusak lingkungan. Persepsi negatif ini turut menyumbang pada stigmatisasi terhadap istilah dan praktik "pertambangan pasir." Makalah ini mengkaji kehidupan dan penghidupan para pengangkat pasir, dengan mengajukan pertanyaan: Bagaimana mereka mempertahankan hidup melalui aktivitas pertambangan pasir? Bagi banyak dari mereka, mengangkat pasir merupakan pilihan terakhir untuk bertahan hidup dan berpartisipasi dalam pembangunan kota, meskipun pekerjaan mereka turut menyumbang pada kerusakan lingkungan. Meskipun pertambangan pasir menimbulkan tantangan ekologis yang signifikan, ia juga menjadi jalur kehidupan bagi komunitas yang terpinggirkan dalam upaya memperbaiki kondisi hidup mereka. Dengan berfokus pada kasus para pengangkat pasir di Papua Barat, makalah ini menggunakan konsep "infrapolitik" untuk mengeksplorasi pertemuan antara informalitas, agensi politik, dan hak atas penghidupan di konteks perkotaan. Dengan demikian, makalah ini memperluas diskursus mengenai hak asasi manusia, informalitas, dan keadilan lingkungan di kawasan ini, dengan menyoroti dinamika kompleks antara perjuangan hidup, pembangunan kota, dan dampak ekologis.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Adryamarthanino, Verelladevanka, and Tri Indriawati. "Daftar Pelanggaran HAM Berat Di Papua." Kompas.com, January 13, 2023. https://www.kompas.com/stori/read/2023/01/13/120000879/daftar-pelanggaran-ham-berat-di-papua?page=all#page2.

Ahn, Seung"gook. "The Truth behind the Asian Financial Crisis: Panic or Cronyism?" Pacific Focus 15, no. 2 (September 2000): 89-103. https://doi.org/10.1111/j.1976-5118.2000.tb00244.x. DOI: https://doi.org/10.1111/j.1976-5118.2000.tb00244.x

Amin, Ash. "Lively Infrastructure." Theory, Culture & Society 31, no. 7-8 (December 2014): 137-61. https://doi.org/10.1177/0263276414548490. DOI: https://doi.org/10.1177/0263276414548490

Booth, Anne. The Indonesian Economy in the Nineteenth and Twentieth Centuries. London: Palgrave Macmillan UK, 1998. https://doi.org/10.1057/9780333994962. DOI: https://doi.org/10.1057/9780333994962

Gietzelt, Dale. "The Indonesianization of West Papua." Oceania 59, no. 3 (March 1989): 201-21. https://doi.org/10.1002/j.1834-4461.1989.tb02322.x. DOI: https://doi.org/10.1002/j.1834-4461.1989.tb02322.x

Hadiz, Vedi, and Richard Robison. "Neo-Liberal Reforms and Illiberal Consolidations: The Indonesian Paradox." Journal of Development Studies 41, no. 2 (February 2005): 220-41. https://doi.org/10.1080/0022038042000309223. DOI: https://doi.org/10.1080/0022038042000309223

Iswahyudi, Heru. "Back to Oil: Indonesia Economic Growth after Asian Financial Crisis." Economic Journal of Emerging Markets 8, no. 1 (April 2016): 25-44. https://doi.org/10.20885/ejem.vol8.iss1.art3. DOI: https://doi.org/10.20885/ejem.vol8.iss1.art3

Kalami, Silas. "Dampak Transformasi Status Dan Fungsi Tanah Adat Bagi Gerakan Sosial :: Studi Kasus Tuntutan Masyarakat Adat Malamoi Tentang Tanah Ex-Erfpacht Verponding Dalam Kota Sorong Provinsi Papua Barat." Doctoral Dissertation, Universitas Gadjah Mada, 2010. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/45282#:~:text=Gerakan%20sosial%20yang%20dilakukan%20oleh%20masyarakat%20Adat%20Malamoi,Adat%20ex-Erfpacht%20verponding%203120%20ha%20dalam%20Kota%20Sorong.

Kirksey, Eben. Freedom in Entangled Worlds: West Papua and the Architecture of Global Power. Durham and London: Duke University Press, 2012. https://doi.org/10.1215/9780822394761. DOI: https://doi.org/10.1215/9780822394761

Lopulalan, Joseph Eliza. "Jati Diri Orang Asli Papua Dalam Pusaran Otonomi Khusus Di Provinsi Papua Barat." SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial 15, no. 1 (January 31, 2018): 37-49. https://doi.org/10.21831/socia.v15i1.20801. DOI: https://doi.org/10.21831/socia.v15i1.20801

Marcus, George E. "Ethnography in/of the World System: The Emergence of Multi-Sited Ethnography." Annual Review of Anthropology 24, no. 1 (October 1995): 95-117. https://doi.org/10.1146/annurev.an.24.100195.000523. DOI: https://doi.org/10.1146/annurev.an.24.100195.000523

McGranahan, Carole. "The Truths of Anonymity: Ethnographic Credibility and the Problem with Pseudonyms." Rethinking Pseudonyms in Ethnography, 2021. https://americanethnologist.org/online-content/collections/rethinking-pseudonyms-in-ethnography/the-truths-of-anonymity-ethnographic-credibility-and-the-problem-with-pseudonyms/.

McNamee, Lachlan. Settling for Less: Why States Colonize and Why They Stop. Pricenton: Princeton University Press, 2023. https://doi.org/10.2307/j.ctv2sbm8nj. DOI: https://doi.org/10.23943/princeton/9780691237817.001.0001

Polese, Abel. "What Is Informality? (Mapping) "˜The Art of Bypassing the State' in Eurasian Spaces and Beyond." Eurasian Geography and Economics 64, no. 3 (2021): 322-64. https://doi.org/10.1080/15387216.2021.1992791. DOI: https://doi.org/10.1080/15387216.2021.1992791

Poulgrain, Greg. "Delaying the "˜Discovery' of Oil in West New Guinea." The Journal of Pacific History 34, no. 2 (September 1999): 205-18. https://doi.org/10.1080/00223349908572903. DOI: https://doi.org/10.1080/00223349908572903

Rutherford, Danilyn. Raiding the Land of the Foreigners: The Limits of the Nation on an Indonesian Frontier. New Jersey: Princeton University Press, 2003. https://doi.org/10.2307/j.ctv182jsz6. DOI: https://doi.org/10.1515/9780691223414

Sari, Meisy Permata, Adi Kusuma Wijaya, Bagus Hidayatullah, Rusdy A Sirodj, and Muhammad Win Afgani. "Penggunaan Metode Etnografi Dalam Penelitian Sosial." Jurnal Pendidikan Sains Dan Komputer 3, no. 01 (February 10, 2023): 84-90. https://doi.org/10.47709/jpsk.v3i01.1956. DOI: https://doi.org/10.47709/jpsk.v3i01.1956

Scott, James C. "Chapter Seven: The Infrapolitics of Subordinate Groups." In Domination and the Arts of Resistance: Hidden Transcripts, 183-201. New Haven: Yale University Press, 2008. https://doi.org/10.12987/9780300153569-009. DOI: https://doi.org/10.12987/9780300153569-009

Suaib, Hermanto, and Anwar Fitrianto. "A Study of Economic Empowerment of Moi Tribe in Sorong, West Papua." International Journal of Asian Social Science 5, no. 12 (2015): 694-705. https://doi.org/10.18488/journal.1/2015.5.12/1.12.694.705. DOI: https://doi.org/10.18488/journal.1/2015.5.12/1.12.694.705

Wafa, Zaein. "Government Tips In Severe Human Rights Conflicts In Political Legal: Case Study Of Papua." Indonesia Journal of Criminal Law 6, no. 1 (2024): 11-20. https://doi.org/10.31960/ijocl.v6i1.2369.

Widyantara, I Gede Hendra. "Penegakan Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dalam Mewujudkan Keadilan Di Papua." JISOS 1, no. 7 (2022): 585-600.

Diterbitkan

2025-04-30

Cara Mengutip

Mahadika, Gilang, dan Riki Ari Pradana. “Kisah "˜Orang-Orang Angkat Pasir’ Di Semenanjung Kepala Burung: Informalitas Di Pinggiran Kota Sorong”. Jurnal HAM 16, no. 1 (April 30, 2025): 25–46. Diakses September 17, 2026. https://lawpolicyjournal.id/index.php/ham/article/view/4934.

Terbitan

Bagian

Artikel

Artikel Serupa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.